Hari ini saya berkesempatan berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Klaten bersama teman-teman Tenaga Ahli Fraksi PKS DPR RI Bidang POLHUKAM. Kami datang untuk melihat lebih dekat, mendengar, dan memahami berbagai persoalan pemasyarakatan dari mereka yang menjalaninya setiap hari.
Yang paling membekas bagi saya adalah melihat kehidupan warga binaan dari dekat. Mereka berkebun, beternak, membuat karya dan produk untuk dijual, mengikuti pengajian dan kebaktian, bahkan kegiatan pramuka. Di tengah keterbatasan, saya melihat ada usaha untuk tetap belajar, bekerja, berkarya, dan mempersiapkan diri kembali ke masyarakat.
Tetapi saya juga melihat sisi lain yang tidak ringan. Ruang yang sangat terbatas membuat kamar yang idealnya dihuni 3–4 orang harus ditempati 9–10 orang. Kurang dari 10 petugas harus mengawasi hampir 300 warga binaan. Para petugas juga bercerita tentang peralatan yang sudah sangat tua, bahkan sebagian tidak lagi dapat digunakan.
Saya bisa memahami mengapa mereka merasa berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, mereka dituntut menjalankan pemasyarakatan secara humanis dan menghindari penggunaan kekerasan. Di sisi lain, ketika menghadapi situasi yang mengancam keselamatan, keterbatasan personel dan sarana dapat membuat mereka berada dalam dilema. Menurut saya, petugas membutuhkan prosedur yang jelas dan perlindungan hukum yang memadai, agar pendekatan humanis tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan mereka.
Kami juga berbicara tentang keluarga. Saya semakin yakin bahwa keluarga bukan sekadar pihak yang berkunjung, tetapi bagian dari proses pembinaan. Hubungan suami dan istri, khususnya, adalah ikatan yang penting untuk tetap dijaga. Karena itu, perlu terus dipikirkan mekanisme pertemuan dan komunikasi keluarga yang lebih baik, layak, aman, dan terkontrol sesuai ketentuan hukum. Bukan sekadar soal fasilitas, tetapi tentang mempertahankan keharmonisan keluarga dan memberikan kekuatan bagi warga binaan untuk kembali ke masyarakat.
Kunjungan ini membuat saya melihat bahwa penguatan pemasyarakatan tidak bisa hanya berbicara tentang warga binaan. Kita juga harus memikirkan petugas, kondisi hunian, sarana keamanan, kualitas pembinaan, pelayanan, serta keluarga yang tetap menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Saya datang untuk melihat dan berdiskusi. Saya pulang dengan banyak catatan, tetapi juga dengan rasa hormat kepada para petugas dan warga binaan yang, dalam segala keterbatasan, tetap berusaha menjalani perannya masing-masing.
Pada akhirnya, pemasyarakatan bukan hanya tentang menjalani masa pidana. Ia adalah proses menjaga martabat manusia, membangun kembali kehidupan, dan mempersiapkan seseorang untuk pulang—kepada keluarga dan kepada masyarakat.
#Lapas #Pemasyarakatan #Klaten #AgaEdukasi #ManusiaBiasa
%20web.jpg)

%20web.jpg)
.jpeg)



