Ada rasa bahagia ketika sesekali melihat kembali perjalanan satu semester. Setelah semua kegiatan dilalui, ternyata yang paling melekat bukan hanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi justru tentang orang-orang yang ditemui di sepanjang perjalanan. Sebagai DPL, semester ini saya mendapat kesempatan untuk mengenal beberapa sosok dan lingkungan yang memberi cerita berbeda. Salah satunya ketika mendampingi kegiatan magang mahasiswa di Desa Prawatan. Di sana saya bertemu dengan Sabiq Muhammad, Kepala Desa Prawatan, yang belakangan namanya kembali muncul karena bersama sejumlah pihak ia mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi terkait penggunaan Dana Desa untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Dari Prawatan, perjalanan kemudian berlanjut ke Gondangsari, Juwiring, Klaten, kali ini melalui KKN STIA Madani. Ceritanya dimulai ketika anak-anak KKN datang dan kemudian diserahkan kepada induk semang, yang juga merupakan pemilik Sanggar Seni Ngesti Roso Sejati sekaligus perangkat desa. KKN kali ini membawa tema ketahanan ekonomi, sehingga berbagai program yang dijalankan memang diarahkan pada hal-hal yang bisa memberi manfaat bagi kehidupan ekonomi masyarakat. Menariknya, beberapa program yang dibuat mahasiswa ternyata tidak berhenti ketika kegiatan KKN selesai. Ada yang kemudian dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan ada pula yang berkembang menjadi kegiatan usaha warga. Bagi saya, bagian seperti ini justru terasa penting, karena sebuah program KKN menjadi lebih berarti ketika ada sesuatu yang tertinggal dan bisa terus digunakan oleh masyarakat.
Namun, pengalaman di Gondangsari tidak hanya membawa cerita tentang ketahanan ekonomi. Ada sisi lain yang justru membuat perjalanan ini terasa semakin kaya, yaitu ketika berkenalan lebih dekat dengan kehidupan seni dan budaya masyarakat setempat. Sanggar Seni Ngesti Roso Sejati menjadi salah satu ruang yang mempertemukan banyak hal. Menurut cerita anak-anak KKN, selama dua bulan berada di Gondangsari, mereka sampai tiga kali menyaksikan pentas wayang. Bagi saya, cerita itu menarik bukan semata karena mereka bisa menyaksikan pertunjukan wayang beberapa kali, tetapi karena di sana terlihat bahwa kesenian tradisional masih mempunyai ruang dalam kehidupan masyarakat.
Mungkin itu pula yang membuat pengalaman di Gondangsari terasa berbeda. Setelah sebelumnya diperkenalkan pada orang-orang yang memiliki perhatian besar terhadap persoalan desa di Prawatan, di Gondangsari saya kembali dipertemukan dengan orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap seni dan budaya Jawa. Ada masyarakat yang masih memberi ruang untuk kesenian, ada sanggar yang terus bergerak, ada anak-anak muda yang mau belajar dan tampil, dan ada pula lingkungan yang membuat tradisi seperti wayang tetap hadir di tengah kehidupan masyarakat. Dari situ saya semakin merasa bahwa sebuah desa tidak hanya bisa dikenali dari potensi ekonominya, tetapi juga dari orang-orang yang merawat apa yang menjadi bagian dari identitas mereka.
Cerita itu kemudian sampai pada penghujung KKN. Sanggar Seni Ngesti Roso Sejati sedang memiliki agenda ulang tahun, dan dalam rangkaian kegiatan tersebut digelar pertunjukan wayang. Kebetulan waktunya bertepatan dengan masa kepulangan anak-anak KKN. Pertunjukan itu bukan dibuat khusus sebagai acara perpisahan, karena memang merupakan bagian dari peringatan ulang tahun sanggar. Namun, induk semang sengaja menyelaraskan waktunya dengan kepulangan mahasiswa KKN karena ingin memberikan sebuah hadiah untuk mereka. Hadiah itu bukan sesuatu yang harus dibungkus atau dibawa pulang, melainkan sebuah pertunjukan yang lahir dari sesuatu yang mereka miliki dan mereka cintai. Yang lebih menarik lagi, yang tampil juga anak-anak muda dari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta. Melihat anak-anak muda belajar, berkesenian, dan ikut hadir dalam pertunjukan tradisi seperti wayang membuat saya berpikir bahwa pelestarian budaya ternyata tidak selalu berbicara tentang bagaimana mempertahankan sesuatu yang lama, tetapi juga tentang bagaimana memberi ruang kepada generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan kemudian meneruskannya. Dan mungkin justru karena itulah, bagi anak-anak KKN, perpisahan tersebut menjadi pengalaman yang akan lebih mudah diingat.
Ketika melihat kembali perjalanan satu semester ini, saya merasa yang membuatnya berkesan bukan semata-mata banyaknya kegiatan yang dilakukan. Justru pertemuan dengan orang-orang dan cerita yang menyertainya yang membuat semuanya terasa lebih berarti. Menjadi DPL ternyata juga memberi kesempatan untuk belajar dari banyak hal yang kadang tidak kita temukan dalam ruang kelas. Dari mahasiswa, dari desa, dari masyarakat, dari orang-orang yang memilih mengabdikan waktunya untuk membangun lingkungan sekitar, sampai dari anak-anak muda yang masih mau belajar dan menjaga kesenian tradisional.
Mungkin itulah bagian paling menyenangkan dari perjalanan semester ini: saya diperkenalkan kepada orang-orang hebat melalui berbagai kegiatan yang saya jalani sebagai DPL. Mereka datang dari latar yang berbeda dan memiliki perhatian yang berbeda pula, tetapi semuanya meninggalkan cerita. Pada akhirnya, yang mungkin paling lama tinggal dalam ingatan bukan hanya nama desa, program kegiatan, atau rangkaian acara yang pernah dilalui, melainkan orang-orang yang ditemui dan pelajaran yang diam-diam mereka tinggalkan.
#Wayang #BudayaJawa #AnakMuda #SMKISurakarta #Gondangsari #Klaten #SeniTradisional #PelestarianBudaya #KKNSTIAMadani #BudayaIndonesia #KKN #STIAMadani #AgaEdukasi
Link Shorts Youtube: disini
Link Berita: disini
.jpg)
.jpg)
.jpeg)
%20web.jpg)

%20web.jpg)
.jpeg)


