Ujian Diseminasi Mahasiswa Magang Kantor Desa Prawatan
Mendampingi mahasiswa magang bukan sekadar memastikan mereka hadir dan menyelesaikan tugas. Lebih dari itu, pendampingan adalah upaya membuka jalan agar mahasiswa mampu menemukan makna dari setiap pengalaman, mempertemukan ilmu dengan kenyataan, dan menumbuhkan keberanian untuk terus berkembang.
Di Desa Prawatan, Klaten, mahasiswa STIA Madani berkesempatan belajar dari sosok kepala desa yang masih sangat muda, Sabiq Muhammad. Ia memilih meninggalkan kesempatan melanjutkan studi S2 di China untuk memenuhi panggilan pengabdian kepada masyarakat. Pilihan itu memberi pelajaran bahwa pengabdian terkadang menuntut keberanian untuk meninggalkan kesempatan yang sangat baik demi mengambil tanggung jawab yang lebih besar.
Semangat kepemimpinan muda itu juga tercermin dalam TPS3R Reresik Desa Prawatan. Lokasi yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah liar kini diubah menjadi bagian dari pengelolaan sampah yang lebih tertata dan berbasis masyarakat. Bahkan, pelayanan TPS3R diberikan secara gratis bagi warga penyandang disabilitas.
Bagi mahasiswa, Prawatan memberikan pelajaran yang sederhana tetapi penting: perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat dimulai dari keberanian melihat persoalan di sekitar, kemudian mengubahnya menjadi solusi yang nyata dan bermanfaat.
Pengalaman berbeda dijalani oleh mahasiswa STIA Madani yang mengikuti magang mandiri di DPR RI. Di sana, mereka memperoleh kesempatan untuk membuka cakrawala yang lebih luas: mengenal kerja lembaga negara, melihat bagaimana aspirasi masyarakat menjadi bagian dari proses kebijakan, serta memahami bahwa persoalan publik membutuhkan cara pandang yang luas dan kritis.
Dua kelompok mahasiswa, dua tempat belajar, dan dua pengalaman yang berbeda.
Namun keduanya membawa pesan yang sama: kuliah tidak boleh berhenti pada penguasaan teori. Mahasiswa perlu keluar, melihat, mengalami, bertanya, dan belajar dari dunia nyata.
Di Prawatan, mahasiswa belajar bahwa kepemimpinan dan perubahan bisa tumbuh dari desa. Di DPR RI, mahasiswa belajar melihat persoalan masyarakat dari perspektif yang lebih luas. Keduanya menjadi bekal untuk membangun cara berpikir, keberanian mengambil peran, dan semangat untuk terus berkembang.
Pada akhirnya, mendampingi mahasiswa adalah tentang membantu mereka melihat lebih jauh dari apa yang ada di depan mata.
Semoga pengalaman di Prawatan menumbuhkan keberanian untuk mengabdi, pengalaman di DPR RI membuka cakrawala berpikir, dan keduanya menyalakan semangat untuk terus belajar, bertumbuh, dan mengambil peran.
Sebab mahasiswa hari ini bukan sekadar sedang mencari pengalaman. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari perubahan di masa depan.
Bersama Kepala Desa Prawatan Klaten
Mahasiswa Magang Mandiri di DPR RI
Bersama Para Mentor, Tenaga Ahli DPR RI
.jpeg)




.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)